Cari di sini

Friday, August 26, 2022

Menulis sebagai Passion (2)

 


Menulis merupakan kegiatan yang kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit. Munculnya persepsi ini pada dasarnya disebabkan oleh sejumlah "stigma" tertentu terhadap kegiatan tulis menulis.

Menulis itu bakat merupakan salah satu anggapan yang berkembang pada banyak orang. Menulis dalam hal ini dipandang sebagai keterampilan bawaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Pandangan ini membuat orang yang merasa tidak memiliki bakat tidak berniat atau enggan untuk menulis.

Menulis pada dasarnya sama dengan keterampilan fisik seperti olahraga. Diperlukan sikap konsisten untuk belajar dan berlatih. Ronaldo dan Messi bintang lapangan hijau, Muhammad Ali dan Mike Tyson, dua legendaris tinju, atau David Balle atlet parkour dunia yang membintangi film Distrik 13 merupakan tokoh-tokoh yang mencapai puncak karir dengan komitmen dan kerja keras.

Penulis-penulis besar seperti Ahmad Tohari ketika menari bersama Ronggeng Dukuh Paruk, si Jalang Khairil Anwar, Mochtar Lubis dalam petualangannya melakui Jalan Tak Ada Ujung, Sutan Sati dengan perenungannya dalam Sengsara Membawa Nikmat, atau Hamka dengan petualangan kreatif Di Bawah Lindungan Ka'bah, mereka hadir dengan membawa karyanya yang tidak pernah usang sepanjang zaman. Nama-nama besar itu berhasil melahirkan karya besar yang selalu menjadi incaran pembaca dari waktu ke waktu. Karya-karya mereka hadir bukanlah tanpa proses belajar.

Stigma bahwa menulis itu suatu bakat harus diubah karena menjadi salah satu kendala. Menulis harus diyakini sebagai hasil latihan dan upaya mencoba.

Di samping stigma di atas, ada kendala klasik dimana seseorang merasa tidak memiliki waktu untuk menulis. Seseorang merasa terlalu sibuk sehingga tidak dapat meluangkan waktunya, padahal ada banyak waktu terbuang percuma tanpa menghasilkan karya apapun. 

Era digital saat telah mengubah banyak hal. Salah satunya ketergantungan pada gadget. Dilansir dari suara.com (17/01/2022), Indonesia merupakan pengguna handphone dengan durasi paling tinggi hingga mencapai 5.5 jam/hari.[1] Artinya, hampir seperempat bagian dari 24 jam aktivitas sehari-hari didominasi oleh penggunaan gadget. Ini berarti bahwa waktu luang bagi setiap orang sangat terbuka. Hal yang perlu dilakukan adalah mengelola waktu dengan baik.

Kemajuan teknologi saat ini seharusnya dimanfaatkan sebagai peluang. Jika di masa lampau kegiatan menulis dilakukan dengan berbasis kertas, saat ini menulis dapat dilakukan dengan memanfaat gadget. Melalui gadget seseorang dapat mengakses media daring seperti blog, website, atau aplikasi yang tersedia baik secara online maupun offline.

Menulis juga acapkali dihambat oleh kebuntuan ide. Seseorang sering merasa tidak dapat memilih topik atau tema yang dapat dijadikan bahan tulisan yang menarik. Alasan ini membuat seseorang merasa kesulitan untuk membuat sebuah tulisan.

Lalu bagaimana menemukan ide? Pada dasarnya ide ada di mana saja. Banyak peristiwa atau pengalaman sehari-hari yang dapat dijadikan bahan tulisan. Penulis pemula dapat mulai dengan hal-hal nyata dalam kehidupan keluarga, interaksi dengan tetangga, atau membuat catatan perjalanan saat berkunjung ke suatu tempat. Seorang guru di sekolah, misalnya, dihadapkan pada banyak hal yang dapat dijadikan tulisan. Guru dapat membuat tulisan sederhana tentang proses belajar di kelas, interaksi dengan sesama guru, atau dapat membuat catatan tentang pelaksanaan apel bendera pada hari senin dan hari-hari besar Nasional lainnya. Menuliskan tentang pengalaman sehari-hari akan lebih mudah dikembangkan menjadi sebuah tulisan.

Salah satu alasan pribadi yang perlu dihilangkan adalah ketakutan mendapatkan kritik dari pembaca atas tulisan yang dibuat. Ketakutan pada kritik pada umumnya disebabkan oleh rasa tidak percaya diri untuk membuat tulisan. 

Pikiran-pikiran seperti ini harus diubah dengan banyak berdiskusi dalam komunitas yang memiliki konsern terhadap dunia literasi.

Satu hal yang penting untuk disadari bahwa untuk menghasilkan tulisan yang menarik perlu penilaian dari orang lain atau pembaca. Salah satu bentuk penilaian itu adalah kritik. Kritik itu sendiri bukan semata-mata sebagai upaya untuk menemukan kekurangan sebuah tulisan. Lebih dari itu, kritik dapat dijadikan pijakan untuk memperbaiki sebuah tulisan. Baik atau tidaknya sebuah tulisan tidak dapat dinilai oleh penulisnya sendiri. Penulis memerlukan pembaca untuk melakukan penilaian terhadap karya yang dibuatnya. Adanya kritik memungkinkan seorang penulis terus menerus belajar dan dan mengembangkan kemampuan menulisnya dari waktu ke waktu.

Tidak dapat diabaikan bahwa, minat merupakan salah satu motivasi terbesar bagi seseorang dalam mengambil suatu tindakan. banyak orang tidak tertarik pada kegiatan menulis karena tidak memiliki minat. Aspek ini memang sangat mendasar karena seseorang akan menghindar dari sesuatu jika tidak memiliki minat.

Jika kembali kepada teori pembelajaran, sebenarnya minat itu dapat tumbuh akan sangat tergantung pada lingkungan yang membentuknya. Banyak orang tidak suka memancing tetapi karena bergaul dengan komunitas pemancing akan membuatnya tertarik. Ketertarikan itu memicu tumbuhnya minat dan bisa berubah menjadi hobi.

Hal yang sama bisa terjadi pada menulis. Tumbuhnya minat menulis sangat tergantung pada lingkungan. Jika seseorang bergaul atau berada pada habitat yang memiliki budaya menulis, kemungkinan munculnya minat dan keinginan menulis akan tumbuh dan menguat.

Satu hal yang penting adalah menjadikan menulis sebagai passion. Passion adalah gairah, semangat. Passion lebih dari sekadar hobi. Ada tendensi yang kuat sebagai pendorong untuk melakukan sesuatu. Passion merupakan panggilan jiwa.

Menulis sebagai passion dengan demikian menjadi penting bagi seseorang. Menulis harus dijadikan semangat paling mendasar sekaligus salah satu tujuan hidup utama.

Bagaimana membangkitkan gairah menulis? Ini dapat dimulai dengan mengubah mindset, membangun paradigma atau cara berfikir bahwa menulis itu dapat dilakukan oleh setiap orang. Di sinilah peran jargon menulis sebagai passion.

Jika gairah menulis sudah dapat ditumbuhkan, penting untuk dipahami tindakan yang diperlukan dalam menulis. Tindakan utama yang harus dilakukan adalah banyak membaca. Seorang penulis memerlukan bsnysk referensi atau sumber literatur. Penulis memerlukan pengetahuan dan wawasan yang cukup sebagai pendukung utama dalam menuangkan ide dan gagasan. Tindakan utama yang harus dilakukan yaitu dengan banyak menggali informasi dari berbagai bacaan.

Tidak hanya membaca literatur, membaca fenomena kehidupan sehari-hari juga sangat dibutuhkan. Penulis harus memmiliki kepekaan terhadap berbagai realitas sosial, budaya, dan persitiwa alam yang terjadi. Semua itu dapat menjadi sumber inspirasi dalam sebuah tulisan.

Tindakan lainnya adalah melakukan diskusi atau bertukar pikiran dengan orang lain. Ketika menulis tentang tema tertentu, penulis dapat berdiskusi dengan seseorang yang memiliki pemahaman yang cukup sesuai denagn tema tulisan itu sendiri.

Arus informasi yang muncul saat ini juga dapat menjadi pendukung tulisan. Media saat ini tidak saja menyajikan realitas atau persitiwa tertentu tetapi juga menghadirkan opini. Oleh karena itu perlu juga memperhatikan opini yang berkembang di media, baik media cetak maupun media elektronik, termasuk di dalamnya media sosial.

Di samping itu, seeorang juga harus banyak bersosialisasi dengan orang lain. Interaksi sosial, bagaimanapun juga, dapat memperkaya wawasan dan pemikiran seseorang. Interaksi sosial yang massif sedikit banyak akan mempengaruhi kemapanan cara berfikir dan cara pandang sesorang dalam melihat sebuah permasalahan.

Lombok Timur, 24 Agustus 2022

Sumber:

1. Perentasi Nara Sumber Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 27

2. Moderator Dail Ma'ruf

Tuesday, August 23, 2022

Menulis di Kompasiana (1)


Menulis merupakan kegiatan menuangkan ide, pikiran, pengalaman, atau perasaan melalui media tulis. Ketika era digital masih dalam rahim sang waktu, orang terbiasa menulis dalam buku harian. Anak-anak muda yang galau, remaja yang tengah didera rasa cinta yang dalam, atau anak-anak yang mulai mencoba menemukan jati dirinya, biasanya akan menuangkan setiap jengkal perasaannya dalam sebuah buku harian atau biasa disebut dengan diary. 

Tidak saja para remaja, anak-anak muda, tetapi juga berbagai kalangan. Para profesional, karyawan, kepala sekolah, guru, dan ragam profesi lainnya juga biasa membuat catatan harian.

Kehadiran digital saat ini telah mengubah banyak hal. Salah satunya media menulis. Jika sebelumnya seseorang membuat catatan harian dengan menggunakan media berbasis kertas kini sebagaian besar sudah sudah meninggalkannya dan "eksodus" menuju media berbasis digital. 

Media digital diartikan sebagai media yang bergantung pada perangkat elektronik untuk pembuatan, distribusi, tampilan, dan penyimpanannya.[1] Program dan perangkat lunak komputer, seperti gambar digital, video digital; video game; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data dan basis data; audio digital, seperti mp3, mp4, dan e-book adalah contoh media digital.[2]

Salah satu platform digital yang banyak digunakan adalah website; sekumpulan halaman web yang terdapat dalam domain atau subdomain yang terletak di World Wide Web (WWW) di Internet. Website dapat dibuat dan dikelola oleh individu, kelompok, bisnis, atau organisasi untuk melayani berbagai tujuan.

Salah satu platform itu adalah blog. Blog adalah website berbentuk media online yang berisi konten berupa artikel, video, dan foto. Penulis blog disebut blogger. Blog dapat dikelola oleh blogger baik secara mandiri atau ditangani beberapa orang blogger.[3] Blog tidak saja dapat membuat konten tertulis tetapi juga dalam bentuk gambar, suara dan video. Jika dikelola secar mandiri, blogger dengan sendirinya berperan sebagai admin sehingga dapat dengan leluasa membuat, mengubah, dan menghapus konten yang dibuatnya sendiri. 

Pengguna blog, dengan demikian, dapat memilih membuat dan mengelola blog sendiri, bergabung dengan sejumlah blogger, atau memilih ke dua pilihan tersebut untuk mengelola sebuah blog. Saat ini telah bertebaran media online yang menawarkan blogger atau penulis untuk bergabung di dalam sebuah blog atau website. Salah satunya adalah Kompasiana.

Kompasiana adalah sebuah platform blog dan publikasi online yang dikembangkan oleh Kompas Cyber Media sejak 22 Oktober 2008. Setiap konten (artikel, foto, komentar) dibuat dan ditayangkan langsung oleh Pengguna Internet yang telah memiliki Akun Kompasiana (disebut Kompasianer). Konten yang dapat dibuat pada platform ini juga tidak dibatasi sejauh tidak melanggar ketentuan dan undang-undang yang berlaku.

Setiap pengguna internet dapat bergabung dalam platform kompasiana dengan latar belakang profesi apapun. Hal yang menarik adalah konten yang dibuat Kompasianer dapat langsung tayang jika tidak melanggar ketentuan Kompasiana. Kompasianer juga dapat melakukan editing bahkan menghapus konten yang telah ditayangkan.

Kompasiana merupakan blog tempat berkumpulnya penulis dengan berbagai latar belakang profesi. Platform ini membuka ruang bagi setiap orang yang memiliki minat pada dunia menulis, dari penulis pemula sampai penulis senior.

Bergabung dalam kompasiana seperti memasuki sebuah perpustakaan digital. Kompasiana menyajikan fakta, opini, peristiwa, bahkan naskah fiksi berupa puisi dan cerpen. Kompasiana memberikan ruang kepada setiap kompasianer untuk mengekspresikan setiap ide, perasaan, dan pengalamannya sehari-hari.

Satu hal yang positif dari Kompasianer adalah sikap saling menghargai. Sebagai penulis pemula, tepatnya kompasianer pemula, tulisan saya yang baru hanya mencapai 70-an naskah saat membuat tuliselalu mendapat apresiasi dari sesama kompasianer. Ada sikap saling mendukung dan saling melengkapi antar anggota.

Kompasiana memberikan kebebasan setiap orang untuk menyampaikan informasi melalui tulisan. Blog ini juga menyediakan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti kompetisi menulis dan pembuatan konten video tertentu dengan tema tertentu. Bahkan ada pula reward bagi penulis yang berhasil mendapatkan point dari tulisan yang tayang sesuai ketentuan Kompasiana. Ini sebuah strategi positif dalam rangka menumbuhkan semangat literasi warga.

Kompasiana bagi saya bukan hanya ruang yang menyediakan kesempatan untuk berekspresi tetapi juga sebagai media daring yang memungkinkan Kompasianer berinteraksi melalui tulisan dengan sekumpulan orang yang memiliki wawasan literasi beragam. 

Bergabung dengan Kompasiana tidak sulit. Anda tidak perlu memiliki ijazah atau sertifikat dengan keahlian tertentu. Anda hanya perlu menyiapkan email, nomor hape, dan KTP.

Bagaimana caranya? Omjay telah menjelaskannya panjang lebar dalam pertemuan perdana.

Lombok Timur, 23 Agustus 2022

How To Write a Good Resume (3)

Kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan setiap orang untuk mengeksperikan diri melalui tulisan. Seseorang dapat menulis di m...